Sentolo

Wednesday, 6 July 2016

Budidaya Penangkaran Ayam Bekisar Sentolo

Ayam bekisar adalah hasil perkawinan antara ayam hutan hijau jantan (Gallus varius) dan ayam kampung/ayam buras betina (Gallus gallus domesticus).
Ada tiga tipe ayam bekisar, yaitu :
  1. Gallus aenus yang berjengger bergerigi 8 kecil, pial berukuran sedang, warna bulu pada lapisan atas ungu dengan plisir kuning emas.
  2. Gallus temminckii memiliki jengger bergerigi enam, pial berwarna jambu, bulu merah mengkilap dan berplisir merah kecoklatan.
  3. Gallus violaceus dengan jengger bergerigi bagus, ukuran pial sedang, warna bulunya ungu dengan permukaan yang halus.

Ayam bekisar memiliki ukuran lebih kecil dibandingkan ukuran ayam kampung jantan, tetapi lebih besar daripada induk jantannya. Warna bulunya hitam kehijauan dan mengkilap. Memiliki suara yang halus dan khas: tersusun dari dua nada.

Ayam bekisar, karena ia hasil persilangan antara dua jenis yang berbeda, biasanya mandul. Namun, tidak semuanya demikian. Ada pula ayam bekisar (jantan atau betina) yang bila dikawinkan dengan ayam kampung menghasilkan keturunan.

Ciri-ciri khusus dari ayam bekisar yang paling menonjol adalah bentuk bulu leher yang ujungnya bulat/lonjong bukan lancip. Jika dibandingkan dengan ayam jago biasa maka akan terlihat jelas. Bentuk ayam yang mirip sekali dengan bekisar adalah hasil silangan ayam bekisar dengan ayam kampung yang dinamakan bekikuk. Bentuk dan posturnya sama, hanya kadang-kadang pial dan bulu lehernya yang berbeda.

Tahukah anda ternyata di Sentolo Kulon Progo DIY ada seorang penangkar bekisar yang cukup handal, ibarat seorang maestro seni. Orang mengatakan bahwa menangkar bekisar itu ibarat membuat karya seni.: 
“Memproduksinya ibarat membuat karya seni,  sementara pembelinya terus mengantri”

Jaringan pembibit, pedagang dan komunitas penggemar ayam bekisar tersebar di seantero negeri. Seandainya bibit ayam bekisar diproduksi dalam jumlah banyak pun dipastikan akan tetap laku.
Walaupun demikian, persis seperti barang seni, tak mudah untuk membuat karya dalam hal ini bibit ayam bekisar yang masuk kategorimasterpiece (karya besar). Lebih dari itu, meski pembibit membatasi jumlah produksi, biaya produksi tetap rendah. “Khas seperti barang seni. Antara harga jual dengan ongkos pembuatan sangat jauh dan sangat untung. Tapi sayangnya tidak semua orang bisa membuatnya,” ungkap Agustinus Ariyanto, pembibit ayam bekisar asal Sentolo, Kulon Progo, Jogjakarta ini.
Menurut peternak yang akrab disapa Agus ini, di komunitas bekisar antara peternak dan penghobi garis pembatasnya cukup jelas. Peternak seperti dia kebanyakan hanya berkonsentrasi memproduksi bibit saja, untuk dijual. “Meski nanti bibit dipelihara oleh penghobi, kemudian memenangkan kontes sehingga harganya melambung hingga setara harga mobil mewah, kami ikut senang karena pemenang itu bibitnya dari kita,” paparnya bersemangat.
Sebaliknya, penghobi jarang yang bisa beternak (pembibitan bekisar). Sebab ayam bekisar adalah final stock persilangan yang mandul, tidak bisa dikembangbiakkan lagi.

Produksi
Setiap 5 hari, Agus mengaku mampu mengeluarkan 80 – 100 ekorkuthuk (DOC) bekisar. Perbandingan jantan dan betinayang dijual sebesar 50 : 50. Pejantan dijual Rp 60 ribuper ekor sedangkan betina Rp 6 ribu per ekor.

Alumni Fakultas Ekonomi Universitas Pembangunan Nasional Jogjakarta ini mengungkapkan harga kuthuk tak pernah turun. Padahal, menurut dia hanya bekisar pejantan yang ‘berfungsi’ atau dikonteskan. Karena kontes ayam bekisar meliputi warna bulu, warna kaki, postur, kebersihan, dan suara kokok. Selain itu, ayam bekisar betina tidak produktif (kalaupun bertelur, fertilitas telur sangat rendah) dan berdaging tipis.
Maka Agus berpesan kepada penghobi bekisar pemula untuk membeli bibit ayam bekisar di tempat yang jelas. Bisa ke pembibit langsung atau kepada sesama penghobi agar tidak tergiur harga miring tetapi ternyata yang didapatkan adalah kuthuk betina.

Untuk memproduksi kuthuk bekisar, Agus menyediakan pejantan ayam hutan sebanyak 30 ekor dan 200 ekor ayam kampung betina. “Pejantan harus ayam hutan hijau, asal dari Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara. Kalau induk betina paling bagus memakai ayam kampung dengan warna bulu wido,” paparnya. Ciri wido adalah bulu berwarna seperti klobot (sarung tongkol jagung) dengan variasi kuning. Ayam hutan dari Sumatera dan Kalimantan tidak dapat dipakai karena berjenis ayam hutan merah.
Pejantan ayam hutan yang dipakai Agus adalah hasil tetasan, bukan ayam hutan tangkapan. “Ayam hutan tetasan mentalnya bagus, karena tidak sempat hidup ‘liar’ dan tidak mengalami perubahan habitat,” ungkapnya.

Agus menyatakan harga calon pejantan ayam hutan hasil tetasan yang layak untuk pemacek mencapai Rp 750 ribu – Rp 1 juta per ekor. Bahkan pejantan yang sudah terbukti mampu mengawini dan subur bisa mencapai Rp 3 juta per ekor.
Agus memilih menggunakan kawin alami sistem dodokan ketimbang sistem IB (inseminasi buatan).  Kuthuk bekisar hasil kawin IB biasanya kalah kuat dibanding anak dari kawin alam sehingga harus dirawat lebih teliti terutama pada sebulan pertama kehidupannya.
Sistem dodokan adalah pejantan dibawa ke kandang baterai betina, betina didudukan kemudian keduanya dipasangkan sehingga terjadi perkawinan secara akurat.

Kendala
Hingga saat ini, kendala bisnis pembibitan bekisar tidak berada di pemasaran, tetapi murni di teknis budidaya. Kendala yang umumnya di alami pembibit bekisar adalah kemandulan dengan gejala telur tidak fertil sejak 5 tahun lalu. Saat parah-parahnya kasus ini, telur tetas yang fertil pada candling pertama hanya sekitar 2 – 5 %. “Semua peternak pembibit mengalami. Namun dengan berbagai percobaan yang menghabiskan uang puluhan juta, berangsur-angsur bisa teratasi,” ungkapnya.

Sayangnya Agus menolak merinci cara mengatasi kemandulan itu. Ia hanya menyampaikan, dilakukan perbaikan budidaya, mencukupi nutrisi, mencegah penyakit dan menambah sistem kekebalan dan kesehatan ayam. Ia bahkan menghindari air sumur karena banyak mengandung E coli. “Saya pakai air dari perusahaan air minum,” tegasnya.

Monday, 4 July 2016

Yogyakarta : The Cultural Soul of Java

kyAs a place that is highly independent and protective of its customs and traditions, Yogyakarta can be considered as the cultural soul of Java, and indeed the place is known as Java's cultural capital, a center of historical, political, and cultural development. Many of Java's cultural landmarks can be found at Yogyakarta. On equal footing with its cultural attributes, however, are its plethora of natural attractions that also made it one of Java's most admired travel destinations.
To fully experience the magnificence of Yogyakarta as a travel destination, some of its hottest attractions and activities are given below:

Kraton
The official palace of the Sultan of Yogyakarta, known as the Kraton, is a fascinating cultural and political landmark that is much more of a walled city within a city. It is home to about 25,000 residents, 1,000 of whom are under the employment of the sultan. The Kraton is a self contained community, with its own vital establishments such as markets, schools, mosque, cottage industries, and even a museum. The Kraton is one of the structures that exemplify the finest of Javanese architecture and culture. Its museum holds an extensive collection of historical and cultural memorabilias. Guided tours and performances are regularly held for the benefit of tourists and visitors.

Pasar Beringharjo
Pasar Beringharjo is Yogyakarta's main market, located just 800 meters north of Kraton. Mostly inexpensive batik cap are sold in its front section. On the second floor, cheap shoes and shoes can be found. Pasar Beringharjo's section towards the south is still very much a traditional market.

Kota Gede
Kota Gede is famous as Yogyakarta's center for the silver industry since 1930. Prior to that, however, the town was once the first capital of the Mataram Kingdom, which was founded in 1852 by Senopati. Located near the southern end of the central market lies Senopati's grave, whom the locals consider as sacred.

Tembi
Located at the southern portion of the city, Tembi is a beautiful Javanese cultural center seated in a unique position, surrounded by rice paddies. Its wooden houses, old but beautiful, is home to cultural artifacts including batik and basketry, a fine collection of kris, wayang puppets, and historic photographs of Yogyakarta. A restaurant and an accommodation is available, too!

Sono-Budoyo Museum
Structurally speaking, this museum is poorly lit and a little unkempt and dusty, but it boasts of a fine, first- class collection of Javanese art including batik, kris, puppets, topeng, and wayang kulit. Its courtyard is a location for a Hindu statuary and artefacts collected including Balinese carvings. Apart from these function of being home to such collections, this museum is also a venue for wayang kulit performances.

Handycraft Villages
The Sentolo District of Kulonprogo Regency, has a handycraft villages like Sentolo, Salamrejo, Tuksono and Sukoreno, etc. each has an individual style of handycrafts and due to this individuality and uniqueness, the handycrafts coming from these regions are not only different but above par excellence as well.

video

Monday, 21 March 2016

Sentolo's Handycrafts - A Perfect Semblance of Traditional Ethnic Designs, Sheer Skill and Hard Work

wgCreativity, skill and innovation are the key factors on which any handycraft depends. A handycraft is essentially a piece of artistic excellence brought in use for decorative household items, clothes, furniture, jewelry or anything for that matter. Using special tools, art is crafted on to a piece of fabric, wood, etc. Since time immemorial, handycraft has been enamored as a respectable and tough work that is performed by only those people who have crafting in their blood, i.e if it is their hereditary work. That is the most prominent reason why it is also regarded as a traditional method of making goods for various purposes.

Handycrafts are often used as gift articles as well due to their traditional and beautiful appearances. Today the handycraft industry is flourishing owing to the inclination of a majority of people towards ethnic and traditional designs in handycrafts. Embroidered clothes, sculptured statues, designed lamps, wooden handycrafts, etc. have attracted many a tourist as well as domestic people towards this beautiful facet of art and craft which has reigned Yogyakarta for centuries now. Yogyakarta is well known for its diverse culture and each regency of Yogyakarta Special Province is renowned for its individual handycrafts. Be it the Sentolo District of Kulonprogo Regency, like Sentolo, Salamrejo, Tuksono and Sukoreno, etc. each has an individual style of handycrafts and due to this individuality and uniqueness, the handycrafts coming from these regions are not only different but above par excellence as well.

ta
Yogyakarta handycrafts are said to have been derived from one the oldest civilizations of the world. The vast cultural and ethnic diversity of this colorful land has enabled a variety of motifs, techniques and crafts to flourish and be crafted through innovations. Handicrafts have gained immense popularity as a great gift item as well. Such handycraft items are not only praised but also last for a lifetime.Simple materials like agel, bamboo, cane and various other and  woods, have been transformed into unique pieces of handycrafts by the gifted artisans. The beauty, elegance and exquisite designs of these handicrafts have crafted a niche for themselves in the heart of the art lovers in Yogyakarta and worldwide. The vast range of handycrafts showcasing the rare artistry skills and innovations comprises of handycraft jewelry, handicraft home furnishing items, handicraft decorative items, handycraft table accessories, handycraft antique armory, handycraft paintings, handycraft garden accessories, toys, etc.

Today the handycraft industry is flourishing in every aspect, be it handicraft clothes, antique jewelry, handycraft fashion accessories, and so on. Ethnic designs and innovative styles have given traditional handycrafts a new dimension. Artisans, expert in handicrafts from each state showcase their skills in the handycraft products. Various trade shows, trade fairs give us a chance to plunge in the handycraft world and choose our desired handycraft items.

However, as trade fairs do not happen every day and in case we miss on to those, we should not be disheartened at any cost because the flourishing handicraft industry is easily reachable through the Internet as well. Easy accessibility and faster services make Internet options the most sought after. And, further the task of searching authenticated handycraft manufacturers and suppliers is made easy by the b2b portals and various others. The idea is to get wonderful and exquisite handycraft product options at appropriate prices. And such b2b portals definitely help us in identifying the correct options and thus enhance trusted business.

Handycrafts are valuable and so is the innovation behind them; let's preserve this authentic art and help it.

Saturday, 19 March 2016

Kesenian Oglek "Turonggo Seto" dari Gedangan, Sentolo, Kulon Progo

otsKesenian oglek banyak dijumpai di Desa Sentolo, Kabupaten Kulon Progo. Hampir di setiap pedukuhan di desa ini mempunyai paguyuban yang bergerak di bidang kesenian oglek. Salah satunya adalah Paguyuban Turonggp Seto yang berada di Pedukuhan Gedangan. 

Kesenian oglek adalah salah satu kesenian yang termasuk dalam genre kesenian kuda kepang. Kesenian kuda kepang identik dengan sebuah tarian yang menggunakan properti kuda kepang. Sebuah tarian yang menceriterakan tentang prajurit berkuda dan pada ouncak pertunjukannya diakhiri dengan adegan kesurupan. Meskipun termasuk kedalam genre kuda kepang, kesenian oglek memiliki ciri khas tersendiri.

Ciri khas dari kesenian oglek dapat dilihat dan diperoleh dari unsur-unsur di dalam bentuk penyajiannya, seperti kostum yang dikenakan, iringan musik, bentuk properti dan gerakan serta urutan penyajiannya. Berawal dari bentuk penyajian kesenian oglek Paguyuban Turonggo Seto inilah dapat dilihat perbedaan-perbedaan antara kesenian oglek dengan kesenian ber-genre kuda lumping yang lainnya. 

Unsur-unsur yang ada dalam pertuinjukan kesenian oglek Turonggo Seto juga dapat digunakan sebagai pembeda antara kesenian oglek Turonggo Seto dengan kesenian oglek lain yang masih berada dalam satu desa, karena unsur-unsur yang ada di dalam bentuk penyajian oglek Turonggo Seto memiliki ciri khas tersendiri. Ciri-ciri khas itu hanya terdapat pada bentuk penyajian kesenian oglek Turonggo Seto, sehingga orang dapat mengenali dengan mudah kesenian oglek dari Paguyuban Turonggo Seto pedukuhan Gedangan Desa Sentolo ini.

 

Friday, 11 March 2016

Upacara Adat Merti Dusun Taruban

TTTDesa Taruban terletak di wilayah Tuksono, Sentolo, Kabupaten Kulon Progo. Wilayah dusun Tuksono sendiri dahulunya berasal dari dua kelurahan yang digabung menjadi satu, yaitu dari Kelurahan Kalikutuk dan Kelurahan Kalisana. Di wilayah ini terdapat satu upacara adat yang dikenal sebagai upacara Bersih Dusun Tuksono; namun ada juga yang menyebutnya dengan Bersih Desa Taruban. Upacara adat ini dilakukan satu kali dalam satu tahun oleh warga desa Taruban dan dusun Tuksono pada bulan Sapar setelah panen pertama; di Tuksono, panenan terselenggara dua kali. Sedangkan hari dan tanggal pelaksanaan upacara adat tersebut tidak tetap.

Upacara bersih desa atau dusun tersebut mempunyai beberapa tujuan penting. Warga Tuksono ingin bersyukur kepada Tuhan melalui perantaraan para dhayang leluhur desa yang telah memberikan hasil tani yang berlimpah. Selain itu, upacara adat ditujukan untuk keselamatan para warga dengan menolak kekuatan-kekuatan gaib, roh atau arwah, dan makhluk halus yang gentayangan yang mengganggu desa melalui perantaraan dhayang Eyang Kertayudha. Harapannya adalah agar warga tidak diganggu.

Tujuan lain adalah untuk membersihkan halangan atau kesusahan yang ada (resik sukerta/sesuker) agar kehidupan seluruh warga tenang dan tenteram. Dalam upacara itu juga terungkap usaha pelestarian pesan para leluhur, Eyang Kertayudha, untuk selalu menjaga seluruh wilayah desa dari gangguan ketentraman, baik yang kelihatan maupun tidak kelihatan. Proses upacara adat Bersih Dusun Tuksono sendiri dibagi dalam dua tahap, yaitu upacara Mboyong Mbok Sri dan upacara di Sendang Kamulyan.

Upacara Mboyong Mbok Sri
Upacara Mboyong Mbok Sri ini adalah adat warga yang sebagian besar adalah petani, untuk memuliakan Mbok Sri (Dewi Padi). Setelah panenan pertama (methik), slametan methik (wiwit) biasanya diikuti oleh anak-anak kecil yang membawa ubo rampe seperti janur kuning, kembang setaman, kemenyan, kaca, suri, air kendhi, jajan pasar, bungkusan nasi dan pisang, kemudian dibawa ke areal persawahan.

Setelah pembacaan mantra, pemimpin upacara memotong padi untuk dibuat menjadi boneka penganten disebut Parijata atau Pari Penganten, kemudian anak-anak membawa tangkai padi ke empat pojok sawah tempat padi yang akan dipanen. Sesudah itu nasi dibagiï-bagikan kepada yang mengikuti upacara  dengan cara diperebutkan sedangkan padi yang dibentuk boneka penganten dibawa pulang dengan digendong dan dipayungi untuk disimpan di dalam lumbung padi (petanen/pedharingan/senthong tengah).

Masyarakat Jawa menganggap bahwa lumbung padi ini disediakan secara khusus bagi Mbok Sri untuk beristirahat, oleh karena itu, ruangan ini disucikan dan tidak boleh digunakan untuk tidur oleh orang biasa. Di lumbung tersebut, tersimpan juga godhong kluwih, dhadhap serep, godhong mojo, godhong tebu, godhong jati dan godhong luh untuk alas dan tutup agar padinya tidak cepat rapuh. Godhong jati mempunyai maksud agar berhati-hati menggunakan padi yang disimpan di lumbung, godhong kluwih digunakan sebagai pengawet padi supaya tahan lama.

Rangkaian sesaji upacara Mboyong Mbok Sri adalah sebagai berikut :
  • Sambel Gepleng (dele), untuk menyatukan rasa seperti rasa jauh dekat, rasa pedas asin itu semua satu rasa. Sambel gepleng ini dibuat dari bahan dele, cabe, gereh dengan bermacam-macam rasa dijadikan satu sehingga enak rasanya, mengibaratkan menyatunya warga Tuksono,
  • Dhem�dheman yang terdiri dari godhong dhadhap serep, godhong alang-alang, godhong turi, godhong koro, gandhos katul, dimaksudkan agar tentram karena persediaan hasil panan,
  • Srabi/Apem mempunyai maksud agar tentram,
  • Gudhangan, lauk pauk campuran sayur-sayuran hasil bumi dengan kelapa dimaksudkan agar kita selalu ingat akan hidup kita yang ditopang oleh tumbuhan hasil bumi, dan
  • Tukon Pasar sebagai kelengkapan sasaji yang harus disertakan untuk Mboyong Mbok Sri.
Upacara di Sendang Kamulyan
Upacara adat ini diselenggarakan di Sendang Kamulyan sebagai ungkapan syukur atas karunia Yang Maha Agung atas hasil pertanian yang memuaskan. Para warga membawa tumpukan padi dan berkumpul di Sendang Kamulyan. Setelah selesai didoakan, padi tersebut dibagi-bagikan kepada warga yang datang untuk dijadikan benih. Perlengkapan yang harus ada pada upacara ini adalah rokok Srutu dan arak/ciu putih.

Rangkaian sesaji upacara di Sendang Kamulyan :
  • Teh ayep dan kopi pahit, untuk para leluhur dimaksudkan agar terhindar dari gangguan roh jahat,
  • Rokok srutu dan ciu putih, yang merupakan kesukaan Eyang Kertayuda,
  • Rujak madu mangasa, agar selalu segar bugar,
  • Rujak buahï-buahan hasil tanaman penduduk, maksudnya kebugaran itu diciptakan oleh diri sendiri,
  • Nasi gurih dan ingkung, agar segala sesuatunya yang ada di dusun Tuksono tenteram dan segala keinginan warga dikabulkan Tuhan,
  • Gedhang Raja setangkep, untuk meluhurkan leluhur, dan
  • Tumpeng sebagai lambang kekuasaan Yang Maha Agung.
Sesaji ini dibuat oleh masing-masing kepala keluarga dan selanjutnya dibawa ke rumah Kepala Dusun dan sebagian yang lain dibawa ke Sendang Kamulyan untuk diminta berkah Yang Maha Agung melalui Eyang Kertayuda. Setelah pembacaan doa, pemimpin upacara membagikan sesaji kepada warga, dan pada malam harinya dilaksanakan pergelaran wayang kulit atau kethoprak. Diselenggarakan pula satu kesenian rakyat yang wajib hukumnya, yaitu tayuban (tari tayub) yang konon digemari oleh leluhur warga, yaitu Eyang Kertayuda.

Sosok Wanita Penggerak UMKM

Kekayaan alam dan budaya yang begitu besar bila dimanfaatkan secara baik oleh masyarakat mampu memberikan manfaat yang tak terhingga, terutama untuk meningkatkan pendapatan keluarga.

Bahkan tumbuhan yang semula dianggap tidak berguna dengan sentuhan seni tinggi mampu bernilai jual tinggi, bahkan mampu mengangkat derajat seseorang yang semula hanya sebagai pembantu rumah tangga menjadi seorang pengusaha cukup sukses, dan mampu menopang kehidupan keluarga.

Susmirah merupakan contoh pengusaha kerajinan sukses asal Desa Salamrejo, Kecamatan Sentolo, Kabupaten Kulonprogo, DIY, selain mampu menjadi seorang pengusaha kerajinan yang cukup sukses ia juga mampu memotivasi masyarakat sekitar termasuk pembantu rumah tangganya untuk menjadi pengrajin, sekaligus pengusaha kerajinan yang sukses.

Selain membantu masyarakat sekitar untuk sama-sama memanfaatkan potensi yang ada di Kabupaten Kulonprogo untuk dijadikan kerajianan tangan yang enak dipandang mata, Susmirah yang kini sukses membangun toko kerajinan seni dan oleh-oleh khas Yogya dan Jawa Tengah diberi nama Yog-javanesia Craft, juga menghimpun para pengrajin untuk bisa sama-sama memasarkan hasil produk yang telah mereka buat.

Sukses yang sekarang diperoleh Susmirah bukan tanpa hambatan. Jatuh bangun usaha yang dirintisnya mulai dari bawah ini pernah mengalami kegagalan yang membuat kami sekeluarga harus hidup prihatin. Namun berkat kerja keras, disiplin dan prinsip tidak mudah menyerah akhirnya impian untuk dapat mendirikan pusat kerajinan bisa terwujud seperti sekarang ini.

Gempa Melanda
Ketika awal pusat kerajinan didirikan, Yog-javanesia Craft dilanda gempa yang cukup dahsyat, sehingga sebagian bangunan ambruk. Untuk bangkit kembali membangun gedung ini susmirah  harus merelakan sebagian besar modal usaha, sehingga  harus menunggu beberapa waktu lamanya untuk kembali memulai usaha.

Karena itu ia harus kembali memulai usaha ini dengan memanfaatkan kerajinan yang berasal dari Kulonprogo, terutama kerajinan serat enceng gondok, daun tebu dan sebagainya.
Bahan-bahan itu dibuat berbagai karajinan khas seperti tas, pajangan rumah, sampai kursi makan yang terbuat dari anyaman pelepah pisang, dengan kisaran harga mulai puluhan ribu sampai ratusan ribu rupiah

Yog-Javanesia craft bukan hanya menjualkan barang-barang kerajinan khas Yogya khususnya, dan Jawa Tengah umumnya, namun juga menyediakan kios untuk dimanfaatkan para pengrajin untuk menjual barang-barang hasil buatan mereka sendiri.

Apa yang dilakukan Susmirah dapat dijadikan contoh bagi kaum ibu yang ingin maju dalam mengembangkan industri kerajinan, terutama sekali bagi mereka yang saat ini sedang mengelola Posdaya, agar yang mereka upayakan di Posdaya dapat di pasarkan di galeri milik Susmirah.

Keterbukaan Susmirah untuk mau membina industri kerajinan bukan hanya dimanfaatkan masyarakat sekitar, tapi juga oleh masyarakat Indonesia dari daerah lain, terutama masyarakat Papua yang tergabung dalam Dekranas untuk magang di galeri kerajinan milik Susmirah.

Selain menyediakan produk tadi, Yog-Javanesia Craft juga menyediakan berbagai jenis oleh-oleh pengenan khas Yogja dan Jawa Tengah yang telah dimodifikasi seperti gula merah rasa strawberi dan sebagainya.

Dengan adanya galeri Yog-Javanesia Craft yang saat ini dikelola secara profesional oleh anak-anaknya, kegiatan Susmirah lebih fokus pada penyediaan barang kerajinan dan isi galeri, sedangkan manajemen di serahkan kepada anak-anaknya yang alumni perguruan tinggi.